[Book Review] More Happy Than Not

19542841

Title: More Happy Than Not

Author: Adam Silvera

Genre: Young Adult, LGBT

Publisher: Soho Teen

Pages: 293 pages

Publication: June 2015

Rating: 5 of 5 stars

Synopsis:

In his twisty, gritty, profoundly moving debut—called “mandatory reading” by the New York Times—Adam Silvera brings to life a charged, dangerous near-future summer in the Bronx.

In the months after his father’s suicide, it’s been tough for 16-year-old Aaron Soto to find happiness again–but he’s still gunning for it. With the support of his girlfriend Genevieve and his overworked mom, he’s slowly remembering what that might feel like. But grief and the smile-shaped scar on his wrist prevent him from forgetting completely.

When Genevieve leaves for a couple of weeks, Aaron spends all his time hanging out with this new guy, Thomas. Aaron’s crew notices, and they’re not exactly thrilled. But Aaron can’t deny the happiness Thomas brings or how Thomas makes him feel safe from himself, despite the tensions their friendship is stirring with his girlfriend and friends. Since Aaron can’t stay away from Thomas or turn off his newfound feelings for him, he considers turning to the Leteo Institute’s revolutionary memory-alteration procedure to straighten himself out, even if it means forgetting who he truly is. 

Why does happiness have to be so hard?

Seandainya kamu bisa melupakan kenangan pahit di hidupmu, maukah kamu melakukannya?

Beberapa bulan setelah kepergian ayahnya yang mati bunuh diri, Aaron Soto berusaha menjalani hidupnya seperti semula. Dengan dukungan ibu dan kekasihnya, Genevieve, Aaron mulai bisa merasakan kembali rasanya bahagia, walau tidak sepenuhnya.

I can’t believe I was once that guy who carved a smile into his wrist because he couldn’t find happiness, that guy who thought he would find it in death.

Saat Genevieve yang suka melukis itu pergi selama beberapa minggu untuk mengikuti sebuah acara seni, Aaron tidak sengaja berkenalan dengan Thomas. Perlahan, Aaron jadi dekat dengan pemuda itu dan itu membuat teman-teman Aaron, juga Genevieve, kurang senang. Di lain sisi, Aaron justru merasa sangat beruntung bisa berteman dengan Thomas. Pemuda itu membuat Aaron merasa nyaman. Thomas membuatnya merasa bahagia.

Satu per satu masalah kemudian muncul dan saat segalanya terasa semakin memburuk, Aaron memutuskan untuk pergi ke Leteo Institute, tempat di mana ingatan manusia bisa dihapus. Aaron ingin melupakan segalanya .

Jika kebahagiaan tidak bisa diraih, menghapus kenangan mungkin jalan yang terbaik.

So I did this as a cry for help, I guess, because I didn’t like the bad place I was in.

Review:

This book broke my heart.

More Happy Than Not adalah novel yang membahas tentang depresi, bunuh diri, juga homophobia. Novel ini juga membahas tentang seksualitas, penerimaan diri, cinta, persahabatan, dan keluarga. Aku nggak menyangka jalan ceritanya akan seberat itu.

Aku sangat menikmati cara Adam Silvera menuliskan cerita Aaron. Dia bisa mengeksekusi sekian banyak tema tadi dengan sangat baik. Di bagian awal kita diajak mengenal keseharian Aaron bersama Genevieve dan teman-temannya, juga perkenalannya dengan Thomas. Cerita lalu berlanjut hingga terjadi satu masalah yang berakibat fatal. And I didn’t see that coming! Damn! Dari situ hatiku hancur berantakan sampai aku menutup buku ini dengan banjir air mata T_T

It’s easy to forget it’s there when it’s not glowing. Until all of a sudden it comes back and surprises you; it reminds me of grief.

Adam Silvera sekarang resmi menjadi penulis YA pria favoritku setelah John Green. Ya, novel Adam ini punya rasa yang beda dengan novel-novel John Green, tapi punya daya pikat yang sama. Aku suka dengan plot yang dia bangun. Aku suka dengan kejutan (menyakitkan) yang dia berikan. Serius, aku nggak menyangka ceritanya jadi seperti itu. Dan aku sangat suka dengan kata-kata yang dia tulis di dalam novel ini. Indah dan natural. Quote-able, tapi nggak maksa. Seandainya aku pembaca yang suka memberi tanda, buku ini pasti sudah penuh dengan post-it 😄

more happy.jpg

image source: here, edited by me

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku bahas dari novel ini, tapi takutnya jadi spoiler, jadi aku hentikan reviewku sampai di sini saja.

Yang pasti, membaca More Happy Than Not memberi banyak sekali pelajaran buatku. Seperti beberapa novel yang aku baca sebelum ini, More Happy Than Not mengajarkanku untuk tidak sebelah mata menilai seseorang. Homophobia is totally not a cool thing (and I hated Aaron’s father for what he did). Novel ini juga mengajarkanku untuk menerima dan mencintai diri sendiri.

And, yes, this is still an ugly word and reality is killer, but you move on, you have to—but you don’t write someone out. Sometimes pain is so unmanageable that the idea of spending another day with it seems impossible. Other  times pain acts as a compass to help you get through the messier tunnels of growing up. But the pain can only help you find happiness if you can remember it.

Well, those words are Adam’s, not mine. He writes beautifully, right?

So, if you like to read beautiful young adult novel with depressing but open-minding topic, you have to read this book.

5 bright stars for Aaron and his memories.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s