[Book Review] None of the Above

22896551.jpg

Title: None of the Above

Author: I.W. Gregorio

Genre: Young Adult, Realistic Fiction

Publisher: Balzer + Bray

Pages: 328 pages

Publication: April 2015

Rating: 4 of 5 stars

Synopsis:

A groundbreaking story about a teenage girl who discovers she was born intersex… and what happens when her secret is revealed to the entire school. Incredibly compelling and sensitively told, None of the Above is a thought-provoking novel that explores what it means to be a boy, a girl, or something in between.

What if everything you knew about yourself changed in an instant?

When Kristin Lattimer is voted homecoming queen, it seems like another piece of her ideal life has fallen into place. She’s a champion hurdler with a full scholarship to college and she’s madly in love with her boyfriend. In fact, she’s decided that she’s ready to take things to the next level with him.

But Kristin’s first time isn’t the perfect moment she’s planned—something is very wrong. A visit to the doctor reveals the truth: Kristin is intersex, which means that though she outwardly looks like a girl, she has male chromosomes, not to mention boy “parts.”

Dealing with her body is difficult enough, but when her diagnosis is leaked to the whole school, Kristin’s entire identity is thrown into question. As her world unravels, can she come to terms with her new self?

Hidup Kristin Lattimer saat itu terasa sempurna. Dia terpilih menjadi ratu di homecoming party. Lalu, karena prestasinya dalam olahraga lari dia mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan ke universitas. Dia juga memiliki sahabat-sahabat yang menyayanginya dan kekasihnya, Sam, yang sangat mencintainya.

Di saat Kristin membawa hubungannya dengan Sam ke tingkat yang lebih serius, gadis yang biasa disapa Krissy itu tersadar kalau malam itu tidak berjalan sesempurna yang dia bayangkan. Ada yang salah pada dirinya.

Karena rasa sakit yang menyiksanya, Krissy memutuskan untuk pergi ke dokter. Saat itulah Krissy mengetahui kalau dia bukan seorang perempuan tapi seorang intersex.

Seakan belum cukup, rahasia Krissy itu tiba-tiba tersebar di sekolah dan mengubah hidupnya.

Review:

Sebelum membaca buku ini, aku nggak pernah tahu tentang intersex. Dulu aku pernah menonton berita tentang  mereka yang terlahir sebagai perempuan tapi juga memiliki alat kelamin laki-laki, tapi aku nggak pernah mendengar yang seperti Krissy ini.

Secara fisik, Krissy ini terlahir sebagai perempuan. Dia memiliki payudara, memiliki vagina, hanya saja dia nggak memiliki rahim. Dia nggak pernah menstruasi. Karena, secara medis, Krissy memiliki kromosom pria.

That was when I realized that life was a multiple-choice test with two answers: Male or Female. And I was None of the Above.

Aku harus bilang aku kagum dengan karakter Krissy. Setelah rahasianya tersebar, dunianya berubah drastis. Dia kehilangan sahabatnya dan Sam meninggalkannya begitu saja. Ugh, I really hate Sam! Selain itu, Krissy juga menjadi korban bullying di sekolah. They called her names like ‘faggot’ and ‘homo’. Ugh, I hate them too! Belum lagi beasiswanya terancam hilang karena diagnosis itu.

Hebatnya, Krissy bisa kuat melalui itu semua. Nggak mudah memang, tapi dia bertahan berkat dukungan dari orang-orang yang benar-benar menyayanginya. Dia belajar untuk menerima dan menentukan pilihan yang dia punya.

Yang pasti, Krissy ingin bahagia.

none.jpg

image source: here, edited by me

Well, jujur aja, dari segi cerita, None of the Above memiliki plot yang mudah ditebak. Awal ceritanya pun tipikal novel remaja. Tapi, tema yang diangkat dalam novel ini sangat membuka mata dan menambah wawasan. Itu yang membuatku merasa novel ini penting untuk dibaca banyak orang, terutama oleh para remaja.

None of the Above bercerita tentang mereka yang berbeda. Tentang gender dan identitas diri. Tentang kecurigaan dan ketakutan terhadap hal-hal yang nggak kita kenal. Melalui novel ini kita diajarkan untuk nggak langsung menilai dan menuduh sesuatu yang terjadi tanpa ada keinginan untuk mempelajarinya terlebih dahulu.

Screw that gender essentialism bullshit. Men have as much of a right to care about clothes as women. Girls can like sports and cars and guns too. So why does it even matter if you identify as a girl, a boy, or as neither ?

FYI, Gregorio adalah seorang dokter bedah dan dia pernah memiliki pasien seperti Krissy. Itu sebabnya dia menulis novel ini agar lebih banyak orang yang mengenal dan memahami orang-orang yang terlahir seperti Krissy.

Jadi, buat kamu yang ingin membaca cerita remaja yang realistis dan membahas isu yang penting, aku merekomendasikan novel ini untuk kamu. For me, it’s a great diverse read.

4 bintang untuk Krissy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s