[Book Review] Sputnik Sweetheart

397165.jpg

Title: Sputnik Sweeetheart

Author: Haruki Murakami

Genre: Adult, Romance, Surreal

Publisher: Vintage

Pages: 210 pages

Publication: April 2002

Rating: 4 of 5 stars

Synopsis:

Haruki Murakami, the internationally bestselling author of Norwegian Wood and The Wind-Up Bird Chronicle, plunges us into an urbane Japan of jazz bars, coffee shops, Jack Kerouac, and the Beatles to tell this story of a tangled triangle of uniquely unrequited loves.

A college student, identified only as “K,” falls in love with his classmate, Sumire. But devotion to an untidy writerly life precludes her from any personal commitments–until she meets Miu, an older and much more sophisticated businesswoman. When Sumire disappears from an island off the coast of Greece, “K” is solicited to join the search party and finds himself drawn back into her world and beset by ominous, haunting visions. A love story combined with a detective story, Sputnik Sweetheart ultimately lingers in the mind as a profound meditation on human longing.

Sputnik Sweetheart is a tragic unrequited love triangle story(?). Bercerita tentang si narator utama yang dipanggil “K”, seorang guru sekolah dasar dan penggila novel, yang jatuh cinta dengan Sumire, sahabatnya yang berhenti kuliah demi mengejar karir menjadi penulis, yang jatuh cinta dengan Miu, yang Sumire panggil Sputnik Sweetheart, yang sudah menikah dan tidak memiliki gairah seksual pada suaminya atau pada siapa pun karena sesuatu yang terjadi di masa lalunya.

Karena karir menulisnya tidak menunjukkan kemajuan, Sumire menerima tawaran kerja dari Miu yang dikenalnya di acara pernikahan saudaranya. Sumire yang tadinya cuek dan berantakan lalu berubah menjadi wanita cantik semenjak bekerja menjadi sekretaris Miu. K senang melihat perubahan Sumire, namun dia juga merasa kehilangan sosok sahabatnya itu. Ditambah lagi, Sumire jatuh cinta dengan Miu. K akhirnya hanya bisa memendam perasaannya pada gadis itu.

Setelah menyelesaikan pekerjaan di Italia, Sumire dan Miu berlibur di sebuah pulau di Yunani. Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, hingga suatu hari, setelah Sumire menyatakan perasaannya pada Miu, gadis itu menghilang bagai ditelan asap.

Miu lalu menghubungi K untuk membantunya mencari Sumire.

Review:

“I knew that was impossible—our life here was just a momentary illusion, and someday reality would yank us back to the world we came from.”

Itu perasaanku setelah membaca novel ini. Rasanya seperti bangun dari mimpi. Dunia K, Sumire dan Miu adalah dunia yang surreal dan magis. Walaupun latarnya di Jepang dan masih di bagian bumi ini, tapi dunia mereka nggak nyata. Ilusi.

Beberapa buku Murakami yang pernah aku baca memang nggak ada yang ‘normal’, tapi ini pertama kalinya aku merasanya ceritanya sangat aneh. Tapi aku suka :))

K, Sumire, dan Miu, ketiganya memiliki pengalaman magis masing-masing di dalam hidup mereka, yang membuat kisah mereka jadi menarik. Mereka adalah sosok manusia-manusia kesepian yang jatuh cinta dengan seseorang yang tidak bisa mereka miliki. Mereka saling mengenal, tapi juga saling tidak mengenal. Seperti Sputnik yang saling mengorbit tapi tidak akan pernah bertemu. Dan seperti Laika, anjing yang berada di dalam Sputnik itu, cinta mereka tersimpan di dalam hati masing-masing dan berakhir mati terbakar.

“And it came to me then. That we were wonderful traveling companions but in the end no more than lonely lumps of metal in their own separate orbits. From far off they look like beautiful shooting stars, but in reality they’re nothing more than prisons, where each of us is locked up alone, going nowhere. When the orbits of these two satellites of ours happened to cross paths, we could be together. Maybe even open our hearts to each other. But that was only for the briefest moment. In the next instant we’d be in absolute solitude. Until we burned up and became nothing.”

Aku harus bilang aku sangat suka dengan cara Murakami menuliskan kisah mereka. Aku jatuh cinta dengan setiap metafora dan prosa yang dia tulis. He writes beautifully. Jadi walaupun tema ceritanya hampir sama dengan novel-novelnya yang lain, aku nggak bosan. Dan tokoh Sumire yang mengejar mimpi menjadi penulis terasa dekat di hatiku. Terutama karena kami tengah menghadapi masalah yang sama.

“It’s just when I try to write, I can’t. I sit down at my desk and nothing comes—no ideas, no words, no scenes. Zero. Not too long ago I had a million things to write about. What in the world’s happening to me?”

I’m still looking for that answer too, Sumire. *puk puk*

Kembali ke cerita, jujur aja, I still have no idea about those bizarre things that happened in this story. K dengan muridnya, Miu dengan masa lalunya, dan Sumire yang menghilang. Murakami sukses membuat aku bingung setengah mati waktu menutup bukunya.

Namun, secara keseluruhan, aku tetap suka dengan Sputnik Sweetheart. Ceritanya aneh, in a good way, khas Murakami. And you’ll love every word that he wrote here.

Aku merekomendasikan novel ini untuk kamu yang suka dengan cerita cinta yang lain dari biasanya. Juga untuk kamu yang ingin mengenal keunikan dari tulisan Murakami tapi belum mau membaca novel lainnya yang lebih tebal.

Sputnik Sweetheart cukup mudah kok untuk dibaca. Yang penting, jangan berpikir terlalu banyak supaya nggak bingung. Anggap saja saat membaca novel ini kamu seperti sedang bermimpi dengan mata terbuka.

4 bintang untuk teman perjalanan yang manis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s