[Book Review] Every Last Word

23341894.jpg

Title: Every Last Word

Author: Tamara Ireland Stone

Genre: Young Adult, Mental Illness, Bullying

Publisher: Disney-Hyperion

Pages: 368 pages

Publication: June 2015

Rating: 4 of 5 stars

Synopsis:

If you could read my mind, you wouldn’t be smiling.

Samantha McAllister looks just like the rest of the popular girls in her junior class. But hidden beneath the straightened hair and expertly applied makeup is a secret that her friends would never understand: Sam has Purely-Obsessional OCD and is consumed by a stream of dark thoughts and worries that she can’t turn off.

Second-guessing every move, thought, and word makes daily life a struggle, and it doesn’t help that her lifelong friends will turn toxic at the first sign of a wrong outfit, wrong lunch, or wrong crush. Yet Sam knows she’d be truly crazy to leave the protection of the most popular girls in school. So when Sam meets Caroline, she has to keep her new friend with a refreshing sense of humor and no style a secret, right up there with Sam’s weekly visits to her psychiatrist.

Caroline introduces Sam to Poet’s Corner, a hidden room and a tight-knit group of misfits who have been ignored by the school at large. Sam is drawn to them immediately, especially a guitar-playing guy with a talent for verse, and starts to discover a whole new side of herself. Slowly, she begins to feel more “normal” than she ever has as part of the popular crowd . . . until she finds a new reason to question her sanity and all she holds dear.

Every Last Word bercerita tentang Samantha McAllister, seorang gadis cantik dan populer di sekolahnya. Sam yang jago berenang itu punya rahasia yang tidak diceritakannya pada teman-temannya yaitu dia memiliki OCD yang membuatnya terobsesi pada pemikiran-pemikiran jahat di kepalanya. Sam dibuat menderita oleh penyakitnya itu. Dia jadi menjauh dari teman-temannya.

Suatu hari, saat Sam sedang depresi dengan penyakitnya, dia bertemu dengan Caroline dan jadi dekat dengan gadis itu. Caroline terlihat sangat berbeda dari teman-teman Sam yang lain, tapi Sam malah merasa nyaman dengannya. Dia bahkan berani bercerita pada gadis itu tentang masalah yang dihadapinya.

Caroline lalu memperkenalkan Sam dengan Poet’s Corner, sebuah grup pecinta puisi yang tersembunyi di sekolah mereka. Di tempat itu, Sam merasa lebih normal dibandingkan saat dia bersama dengan teman-teman populernya. Dia jadi jatuh cinta dengan menulis dan jatuh cinta dengan salah satu anggota Poet’s Corner.

Di saat semuanya terasa lebih baik, Sam justru harus dihadapkan pada kenyataan kalau keadaannya tidak senormal yang dia sangka.

Review:

Every Last Words membuka mataku tentang OCD  terutama bagian Obsessive-nya. Selama ini kalau kita baca atau nonton film dengan karakter yang OCD, kita disuguhkan dengan gambaran mereka yang sangat suka kerapihan, kebersihan atau keteraturan. Rumah yang bersih berkilau, baju yang diatur dengan warna yang sama, atau seperti karakter Sheldon di Big Bang Theory yang harus mengetuk pintu dan memanggil nama si pemilik rumah dengan jumlah yang harus sama.

“Penny… (ketuk tiga kali) Penny… (ketuk tiga kali) Penny… (ketuk tiga kali)”

Di novel ini Sam menderita OCD dan dia terobsesi dengan hal-hal jahat yang ada di pikirannya. Pernah suatu hari dia berkumpul bersama teman-temannya di kamar dan saat melihat gunting, dia membayangkan dirinya menyakiti teman-temannya dengan gunting itu.

Karena novel ini ditulis dengan POV orang pertama, aku bisa merasakan perjuangan Sam untuk menghentikan diri dari obsesi tidak sehatnya. Juga penderitaannya karena harus menyembunyikan penyakitnya dan usaha kerasnya untuk tetap berbaur dengan teman-temannya.

Beruntung Sam bertemu dengan Caroline dan diperkenalkan dengan Poet’s Corner. Mereka yang berkumpul di ruang tersembunyi itu mengajak Sam untuk mengekspresikan dirinya dengan kata-kata. Mereka nggak peduli puisi atau lagu yang mereka tulis itu jelek atau bagus. Mereka hanya ingin menjadi diri mereka sendiri melalui kata-kata yang mereka tulis.

every last word.jpg

image source: here, edited by me

Sayang, di tempat itu pula Sam menemukan kenyataan pahit tentang Caroline.

Apa yang terjadi pada Sam dan Caroline? Temukan jawabannya di Every Last Word.

You’re still here stitched into me, like threads in a sweater.

Feeding me words that break me down and piece me back together, all at once.

Tightening your grip, reminding me that I’m not alone. I never was. None of us ever are.

Menyakitkan memang saat mengetahui kebenaran yang terjadi, tapi aku senang Sam bertemu Caroline dan meninggalkan teman-teman yang nggak tulus mencintainya. Berkat Caroline, Sam bisa melalui semua penderitaannya dan bisa menjadi dirinya sendiri.

Yang pasti, membaca Every Last Word sangat membuka mataku tentang penyakit mental pada remaja dan bullying. Walaupun beberapa bagian dari cerita ini terlalu manis dan too good to be true, tapi aku tetap suka. Tamara menulis cerita Sam dan Caroline dengan sangat baik. Air mataku terbit di beberapa bagian.

Dan setelah mengenal Poet’s Corner, aku jadi ingin menulis lagi. Buku ini membuatku kembali jatuh cinta dengan kata-kata. Sama seperti Sam, aku ingin menjadi diriku sendiri melalui kata-kata yang kutulis.

Aku merekomendasikan novel ini untuk kamu yang ingin mengenal tentang OCD atau untuk kamu yang mencari bacaan remaja yang berbobot.

4 bintang untuk Sam dan puisi-puisi di dinding Poet’s Corner.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s