[Book Review] A Little Life

25852828.jpg

Title: A Little Life

Author: Hanya Yanagihara

Genre: Adult, LGBT, Slice of Life

Publisher: Anchor

Pages: 816 pages

Publication: January 2016

Rating: 5 of 5 stars

Synopsis:

When four classmates from a small Massachusetts college move to New York to make their way, they’re broke, adrift, and buoyed only by their friendship and ambition. There is kind, handsome Willem, an aspiring actor; JB, a quick-witted, sometimes cruel Brooklyn-born painter seeking entry to the art world; Malcolm, a frustrated architect at a prominent firm; and withdrawn, brilliant, enigmatic Jude, who serves as their center of gravity. Over the decades, their relationships deepen and darken, tinged by addiction, success, and pride. Yet their greatest challenge, each comes to realize, is Jude himself, by midlife a terrifyingly talented litigator yet an increasingly broken man, his mind and body scarred by an unspeakable childhood, and haunted by what he fears is a degree of trauma that he’ll not only be unable to overcome—but that will define his life forever.

Review:

Berbeda dari review yang biasa aku buat, aku nggak akan menceritakan ulang inti dari novel A Little Life karena ceritanya terlalu panjang dan terlalu menyakitkan untuk dikenang. So, let me share what I felt after reading this book months ago.

A Little Life adalah novel paling tebal yang aku baca sepanjang tahun ini. 800 halaman! Dan setelah berhasil menyelesaikan novel ini dalam dua hari, cerita Jude dan ketiga sahabatnya sangat membekas di kepalaku dan sukses mematahkan hatiku. Wajah pemuda di cover cukup menggambarkan apa yang kurasakan saat menutup novel ini.

Tema cerita A Little Life memang sangat berat, sangat gelap, dan super depresif. Tokoh utama kita, Jude, harus merasakan kejamnya dunia dari usia yang sangat muda. Hidupnya benar-benar menyedihkan–ini yang membuat aku nggak ingin menceritakan ulang apa yang terjadi di novel ini because it’s unbearable.

Jadi, walaupun Jude memiliki ketiga sahabat yang sangat mencintainya, juga orang-orang di sekitarnya yang sangat menyayanginya, Jude tetap tidak bisa menghapus trauma masa kecil yang dia rasakan. Akhirnya luka dari trauma itu menjadi bagian dari dirinya.

Jude jadi suka menyakiti dirinya sendiri. Di saat sedih, kesepian, dan bahkan di saat dia senang. Dia tidak yakin kalau dia berhak dengan kebahagiaan yang dia rasakan. Dia terbiasa hidup dengan rasa sakit.

Itu sangat menyedihkan. Oh, Jude… T_T

Oke, ganti topik dulu sebelum aku kembali berkubang dalam kesedihan.

Dari ketiga sahabat dekat yang Jude punya, aku paling suka dengan Willem karena pemuda yang satu itu yang paling sayang sama Jude. Apa pun yang terjadi, Willem akan selalu ada dan akan melakukan apa saja demi Jude. Aku nggak bisa membayangkan ada orang yang mau berbuat sejauh itu demi sahabatnya.

JB dan Malcolm juga sahabat yang baik untuk Jude–walau kadang JB sangat menyebalkan. Aku agak iri dengan persahabatan mereka yang terjalin sejak mereka masih kuliah hingga umur lima puluhan begitu. Nggak selalu berjalan harmonis memang, tapi hebat juga mereka bisa bersama selama itu.

Kadang aku pengin ngomel sama Jude. Dia mempunyai banyak orang yang sangat mencintai dan menyayangi dirinya, kenapa dia tidak bisa menerima itu dengan lapang dada? Kenapa dia malah memilih jatuh ke lubang yang sama?

Because he deserved happiness. We aren’t guaranteed it, none of us are, but he deserved it.

Aku kagum dengan kemampuan Hanya Yanagihara dalam merangkai cerita hingga aku bisa ikut terhanyut dalam fase kehidupan Jude dari awal hingga akhir dengan emosi campur aduk. Maksudku, novel ini tebalnya 800 halaman. Kalau narasi dan ceritanya nggak menarik, nggak mungkin aku bisa menyelesaikan novel setebal itu kan?

Padahal kalau dipikir lagi, di dalam novel ini terjadi banyak sekali pengulangan. Karakter dan ceritanya nggak mengalami perkembangan yang berarti. Ceritanya justru semakin gelap dan karakternya kembali melakukan kesalahan yang sama–bahkan semakin parah. Judul bab pembuka dan bab penutup juga sama, seakan menggambarkan kalau kisah hidup Jude ini memang berada dalam lingkaran setan yang terus berputar di situ-situ saja.
“The person I was will always be the person I am…
The context may have changed… But fundamentally, I am the same person.”

And, though I loved Yanagihara’s writing, I also hated her for what she did to Willem and Jude. I wanted to scream ‘WHY??!!’ at her face.

Oke. Sepertinya aku terlalu terbawa emosi. Dear Ms. Yanagihara, please forgive me… 😄

Secara keseluruhan A Little Life adalah novel yang ditulis dengan sangat baik. Novel ini membuka mataku akan banyak hal.

Aku nggak bisa merekomendasikan novel ini ke semua orang karena ceritanya yang sangat gelap, but if you like to read beautiful and painful story, you should try this book.

5 bright stars to Jude and his little life.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s