[Book Review] Sylvia’s Letters

25247848.jpg

Judul: Sylvia’s Letters

Genre: Young Adult, Realistic Fiction

Penulis: Miranda Malonka

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 200 halaman

Terbit: April 2015

Rating: 3,5 of 5 stars

Sinopsis:

Ada surat-surat yang takkan pernah dikirim. Ada surat-surat yang telah dikirim dan mungkin tak pernah dibaca penerimanya.

Hidup mengajari Sylvia tentang obsesi. Persahabatan mengajarinya tentang masalah. Dan Sylvia yakin semua orang bisa diselamatkan dari masalah hidup mereka.

Hingga ia bertemu dengan Anggara, yang mengajarinya tentang cinta yang melepaskan ikatan. Dan untuk pertama kalinya Sylvia menyadari bahwa ia tidak bisa menjadi penyelamat semua orang.

Terkadang peraturan keselamatan tidak lagi berlaku ketika berkaitan dengan obsesi dan cinta.

Sylvia’s Letters berisi surat-surat yang ditulis Sylvia untuk Anggara, atau biasa dipanggil Gara, tapi tidak pernah dia kirim. Di dalam surat-suratnya, gadis berusia 16 tahun itu bercerita tentang dirinya, tentang sahabatnya, tentang pemikirannya, obsesinya, juga tentang perasaannya pada cowok itu.

Sylvia adalah gadis yang memiliki pemikiran yang kritis dan selalu ada untuk membantu permasalahan yang dihadapi teman-temannya.

Di saat bersamaan, Sylvia malah tenggelam dalam permasalahan dirinya sendiri. Sylvia memiliki obsesi diam-diam untuk menurunkan berat badannya. Dia rela melakukan apa saja agar terlihat lebih kurus termasuk bertahan hidup hanya dengan meminum air.

Kebiasaan buruk Sylvia sempat berkurang saat dia akhirnya dekat dengan Gara. Bersama cowok itu, Sylvia bisa melupakan sejenak permasalahan di dalam hidupnya. Sayang, tiba-tiba Gara harus pergi meninggalkannya. Sylvia akhirnya kembali pada obsesi tidak sehatnya dan kali ini tidak ada lagi yang bisa menolongnya.

Review:

Ini pertama kalinya aku baca novel lokal yang membahas isu body image. Dan aku sangat suka dengan cara Malonka membentuk karakter Sylvia. Di sepanjang surat yang ditulis, kita jadi tahu pemikiran kritis gadis itu pada hal-hal yang terjadi di sekitarnya dan apa yang dia lihat dari tubuhnya. Aku yakin banyak remaja di luar sana yang bisa  relate dengan masalah yang dihadapi gadis itu.

“Berkali-kali aku menanyai diriku sendiri, apakah sudah cukup? Apakah aku sudah cukup kurus untuk menjadi bagian dari dunia, terutama duniamu? Kapan seharusnya aku berhenti? Dan aku tak pernah berhasil menjawab pertanyaan itu. Tak pernah.

Selain Sylvia, teman-teman di sekitarnya juga memiliki masalah mereka masing-masing. Aku nggak menyangka Scarlet harus melalui semua itu. Kalau aku jadi dia, aku mungkin juga akan hancur berantakan. Tapi permasalahan Andy dan Layla terasa agak sedikit dipaksakan untuk ada. Sebagian cerita juga jadi berjalan lambat dan akhirnya aku percepat bacanya :p

Format surat dalam novel ini mengingatkan aku dengan The Perks of Being A Wallflower. Namun, berbeda dengan surat-surat yang ditulis Charlie, Sylvia’s Letters memiliki kategori: terkirim, tidak terkirim, dan terkirim tapi tidak dibaca penerima. Kategori-kategori itu memberikan makna tersendiri pada setiap surat yang ada. Aku paling suka membaca surat di kategori terakhir. Menyentuh banget.

sylvia.jpg

image source: here, edited by me

Di luar dari format dan tema yang aku suka banget, aku sebenarnya kurang bisa simpati dengan obsesi Sylvia. Agak kurang jelas buatku kenapa dia harus melakukan semua itu. Karena Gara? Karena tuntutan lingkungan yang menganggap kurus itu cantik? Atau karena dia memiliki mental illness yang membuat dia ingin kurus meski dia sudah kurus? Kalau menurut aku sih lebih cocok alasan yang terakhir (sepertinya aku harus baca ulang novel ini untuk tahu jawabannya).

Orangtua Sylvia juga nggak terlihat dalam cerita ini dan itu sedikit aneh. Masak anaknya semakin kurus, orangtuanya nggak peduli sama sekali? Selain itu, aku juga kurang suka dengan hubungan Sylvia dan Gara yang instan jadi aku nggak bisa merasakan chemistry di antara keduanya. Intinya sih, kurang banyak. Hehe…

Well, terlepas dari kekurangan di atas, aku tetap suka dengan Sylvia’s Letters. Covernya cantik, tema ceritanya juga bagus banget. Gaya menulisnya memang baku tapi tetap enak untuk dibaca. Lalu, dengan menggunakan sudut pandang pertama, kita jadi bisa mengenal lebih dekat sosok Sylvia.

Bagiku, Sylvia’s Letters adalah salah satu young adult lokal yang sangat layak dibaca, apalagi kalau kamu suka dengan cerita remaja yang berbobot. Aku juga ingin merekomendasikan novel ini untuk kamu yang memiliki permasalahan dengan body image. Pemikiran Sylvia dan pesan yang disampaikan novel ini berguna banget buat kamu.

3,5 bintang untuk surat-surat Sylvia.

And, I feel sorry for her 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s