[Book Review] Purple Eyes

29860681.jpg

Judul: Purple Eyes

Genre: Romance, Fantasy

Penulis: Prisca Primasari

Penerbit: Inari

Tebal: 144 halaman

Terbit: April 2016

Rating: 4,5 of 5 stars

Sinopsis:

“Karena terkadang,
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.

Terjadi pembunuhan berantai di Trondheim, Norwegia. Para korban yang tidak berdosa itu dihabisi nyawanya dengan keji dan lever mereka diambil. Hades, sang dewa kematian, ditugaskan ke dunia manusia untuk mencabut nyawa si pembunuh.

Hades memiliki seorang asisten bernama Lyre. Gadis itu, sekitar seratus tahun lalu, adalah manusia. Dia meninggal di usia 24 tahun karena kecelakaan dan sejak saat itu, dia menjadi asisten Hades. Tugasnya membantu Hades mengarsip data orang-orang yang sudah mati dan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang dewa bersayap, termasuk menemaninya ke bumi.

Setibanya di Trondheim, Hades berganti nama menjadi Halstein dan Lyre mengganti namanya menjadi Solveig. Alih-alih langsung menemui si pembunuh, Halstein malah membawa Solveig menemui salah satu keluarga korban.

Pemuda itu bernama Ivarr Amundsen. Adiknya, Nikolai, menjadi salah satu korban si pembunuh. Solveig sudah bertemu dengan Nikolai di alam sana, makanya dia merasa tidak asing saat melihat Ivarr. Keduanya hampir serupa. Mereka mempunyai wajah pucat rupawan, rambut yang pirang dan mata biru gelap, nyaris ungu. Bedanya, Ivarr terlihat dingin. Tidak ada emosi di wajah dan matanya.

Jadi, apa sebenarnya tujuan Halstein menemui Ivarr? Mengapa dia menyuruh Solveig untuk terus menemui Ivarr? Dan, bagaimana kalau setelah pertemuan-pertemuan itu, sedikit demi sedikit perasaan tumbuh di antara Ivarr dan Solveig? Bisakah manusia dan orang mati bersama? Temukan jawabannya di Purple Eyes.

 

Review:

Pertama, aku mau mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Haru dan Penerbit Inari yang telah mengirimkan ARC novel ini untuk ditukar dengan review yang jujur.

Ini karya kedua Prisca Primasari yang aku baca setelah French Pink dan aku jadi jatuh cinta dengan tulisannya. Sendu, romantis, magis. Baru kali ini aku menemukan novel dari penulis lokal dengan nuansa seperti itu. Biasanya cuma aku dapat di manga aja. Hehe…

Purple Eyes ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Dan dari halaman pertama, aku langsung terbuai dengan gaya menulis Prisca. Ini bukan novel re-telling dongeng seperti yang belakangan aku baca, namun punya nuansa magis yang sama.

Alur ceritanya maju, dibuka dengan dengan prolog yang bikin penasaran.

Lyre jatuh cinta. Kepada manusia.

Pemuda itu masih hidup, dan Lyre sudah mati.

Kalimat itu yang bikin aku penasaran dengan cerita si mata ungu ini. Apa yang akan terjadi jika asisten dewa kematian jatuh cinta dengan manusia? Apa mereka bisa bersama? Dan semakin banyak halaman yang aku baca, semakin aku penasaran dengan cerita Ivarr, Solveig dan Halstein ini.

Enggak, novel ini bukan sekadar cerita hantu yang jatuh cinta dengan manusia kayak yang biasa kita temukan di drama. Cerita ini jauh lebih dalam dari itu karena di beberapa bagian, aku meneteskan air mata. Purple Eyes, di luar dari cerita cinta dan fantasinya, adalah novel yang bercerita tentang memeluk duka.

Ivarr mati rasa setelah Nikolai pergi. Dia nggak bisa menangis dan nggak merasa sedih walau dia sangat kehilangan adiknya. Itu karena Ivarr nggak mau merasakan luka dan duka karena kepergian Nikolai.

pe

image source: here, edited by me

Ivarr sukses membuat aku simpati dengan dia. Kadang, saat orang yang kita sayang pergi, kita nggak mau merasakan duka yang datang. Kita cenderung mematikan rasa duka itu dan akibatnya, seluruh emosi kita bisa ikut mati. Padahal, rasa kehilangan serta rasa sedih karena kepergian orang yang kita sayang itu sangat wajar kita rasakan, dan nggak ada yang salah dengan itu.

*peluk Ivarr, nangis bareng*

Kalau membicarakan soal karakter, aku suka dengan ketiga karakter utama yang ada di novel ini. Ivarr yang tanpa emosi, Hades yang misterius dan Lyre yang menjadi karakter penyeimbang di antara ketiganya.

Tapi, karakter favoritku di novel ini adalah Hades. Dewa kematian yang satu itu menggemaskan(?) sekali. Hades adalah dewa kematian kedua yang aku suka setelah Ryuk, shinigami di Death Note. Daripada memakai sweter bergambar rusa seperti yang normal dipakai manusia saat musim dingin, Hades memilih memakai tuksedo seperti pakaian pengantin. Lalu, dengan percaya diri dia bilang orang-orang menatapnya bukan karena pakaiannya yang aneh, tapi karena wajahnya yang terlalu tampan XD

b33dfb07f7a3f77901655e7a512eea95

Hades…! (image source: here)

Walau narsis begitu, Hades masih memiliki wibawa sebagai dewa kematian. Saat menjadi manusia pun, kita masih bisa merasakan aura misterius dari dirinya. Dan aku benar-benar penasaran dengan alasan Hades menemui Ivarr terlebih dulu, bukannya pergi mencabut nyawa si pembunuh. Kamu juga penasaran? Ayo dibeli bukunya setelah terbit nanti 😀

Purple Eyes berhasil memenuhi dahagaku pada novel romance fantasy lokal. Walaupun settingnya di luar negeri dan memakai gaya seperti novel terjemahan dengan kata-katanya yang baku (dialognya bukan ‘aku dan kau’ lagi, tapi pakai ‘saya dan Anda’), aku tetap puas membaca novel ini.

Dari segi bercerita, kualitasnya kurasa nggak perlu diragukan lagi. Purple Eyes sukses membuatku merasa seperti berada di Norwegia dan ikut berpetualang di musim yang dingin itu bersama Hades, Lyre dan Ivarr.

Dan kalau membicarakan kekurangan, ada tapi cuma sedikit aja kok.

Karakter si pembunuh berantai, bagiku, kurang dieksplorasi untuk sudut pandang orang ketiga serba tahu. Padahal tokoh si pembunuh inilah yang menyebabkan Hades ditugaskan turun ke bumi. Biasanya cerita dengan unsur kriminal seperti ini akan fokus juga dengan kehidupan si pembunuh. Tapi, untuk aku pribadi, kekurangan itu nggak terlalu mengganggu karena pada dasarnya fokus cerita memang bukan di situ.

Untuk editingnya, cukup rapi dan aku rasa bersih dari salah tik. Cuma ada satu kalimat yang menjelaskan soal Hades dan Lyre nggak bernapas—hanya seperti mengembuskan napas karena Hades itu dewa dan Lyre sudah mati, yang diulang beberapa kali, tapi ya sudahlah. Nggak mengganggu. Mungkin aku yang lagi sensitif.

Oke deh. Cukup sekian review dariku.  Gara-gara Hades, aku jadi menulis terlalu panjang. Haha… XD

Buat kamu yang mau membaca cerita cinta dengan sentuhan fantasi dan ada sedikit unsur kriminalnya, aku rekomendasikan banget Purple Eyes ini untuk kamu. Begitu juga buat kamu yang ingin belajar berdamai dengan duka.

4,5 bintang untuk Purple Eyes…!

Advertisements

6 thoughts on “[Book Review] Purple Eyes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s