[Book Review] Hilangnya Maryam dan perkara-perkara lain

2f8d009de76b3e20def533ed65eab7b1

Judul: Hilangnya Maryam dan perkara-perkara lain

Penulis: Danis Syamra, dkk

Tebal: 171 halaman

Dunia mengenai perempuan adalah hal yang tidak pernah habis untuk diselami. Ada begitu banyak kisah tentang perempuan yang tidak pernah habis untuk diceritakan kembali. Di buku ini terhimpun 12 cerita mengenai dunia perempuan yang ditulis oleh 12 penulis muda yang mencoba untuk memperlihatkan sisi lain perempuan. Memperlihatkan dunia dari mata tokoh-tokoh perempuan yang ada di dalam cerita. Pilihlah tempat yang tepat untuk menyelami seluk beluk perempuan yang (katanya) rumit. Mungkin setelah membaca buku ini, kamu akan memahami mengapa dunia perempuan terasa begitu rumit. 

Sebelum memulai review, aku mau mengucapkan terima kasih dulu untuk Ninda, salah satu penulis di kumpulan cerpen ini, karena sudah memberi aku kesempatan untuk membaca buku ini sebelum bukunya terbit. Waktu itu naskah yang aku baca masih berjudul Warna Perempuan. Dan seperti judulnya, kumpulan cerpen ini cukup tepat menggambarkan karakter perempuan yang penuh warna.

Awalnya aku pikir kumcer ini hanya akan berisi cerita tentang perempuan dan dunianya, yang nggak jauh-jauh dari sumur, dapur dan kasur, tapi ternyata dugaanku salah. Kumcer ini memberikan sesuatu yang lebih dari itu. Setiap penulis bercerita tentang perempuan yang membuat kita sadar kalau perempuan itu memang penuh warna dan terasa rumit untuk dipahami. Kadang kita akan melihat dia lemah, sangat rapuh hingga disentuh saja akan hancur berantakan. Lalu, di halaman berikutnya, kita akan menemukan dia kuat, terlalu kuat sampai dia mampu membunuh dengan wajah polos tanpa rasa bersalah.

Ada beberapa cerita yang aku suka banget di kumcer ini, terutama cerita yang menunjukkan perempuan itu bangkit dari keterpurukannya. Aku suka saat perempuan itu memeluk duka dan kesepian yang dia rasakan, yang justru membuat dia jauh lebih kuat dari hari sebelumnya.

Aku hanya merasa sangat menyesal. Seharusnya kususupkan sebilah pisau dapur ke dalam tasku. Akan kuhunjamkan pisau dapur itu ke ulu hatinya. Memutarnya. Perlahan. Akan kutatap matanya yang mungkin membeliak, menahan sakit. Lalu aku akan menarik pisau itu kembali dengan cepat. Kuhunjamkan lagi ke dada kirinya. Untuk memperkosa jantung busuknya. Kucabut lagi dengan cepat. Dan mungkin lantas kuhunjamkan lagi ke tenggorokannya. Lalu kuiriskan. Seperti saat ia…. mengambilmu.

dikutip dari cerpen 16 September oleh Carolina Ratri

Dari sekian banyak cerita yang aku suka, ada juga cerita yang aku kurang suka. Cerita yang menunjukkan kelemahan perempuan, yang mudah luluh saat selangkangannya dirayu. Haduh, aku jadi bete kalau baca cerita kayak gitu. Aku lebih suka melihat karakter perempuan yang kuat. Nggak apa-apa sinting, yang penting nggak lemah. Hehe…

Di luar dari isi cerita, yang paling aku suka dari kumcer ini adalah kemampuan para penulis menampilkan ragam karakter perempuan. Bisa dibilang, setiap cerita di kumcer ini nggak ada yang benar-benar sama. Aku suka dengan setting cerita yang berbeda-beda. Aku suka dengan banyaknya genre yang diberikan. Aku suka dengan ragam teknik bercerita yang digunakan para penulis. Jadi pas baca kumpulan cerpen ini aku nggak merasa bosan.
maryam

image source: weheartit, edited by me

Kalau kamu mau membaca kumpulan cerpen ini, kamu bisa beli di situs nulisbuku. Ada versi hitam putih dan versi berwarna. Iya, masih self-publishing, tapi kualitas ceritanya nggak kalah kok dari kumcer yang diterbitkan penerbit mayor. Buat kamu yang ingin mengenal ragam warna perempuan yang membuatnya terlihat rumit, aku merekomendasikan kumcer ini.

3,5 bintang untuk Hilangnya Maryam dan perkara-perkara lain.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s