[Book Review] All the Bright Places

24465380

Judul: All the Bright Places

Genre: Young Adult

Penulis: Jennifer Niven

Penerbit: Random House Children’s Books

Tebal: 388 halaman

Harga: Rp. 205.000

Terbit: Januari 2015

Rating: 5 of 5 stars

Sinopsis:

The Fault in Our Stars meets Eleanor and Park in this exhilarating and heart-wrenching love story about a girl who learns to live from a boy who intends to die.
Soon to be a major motion picture starring Elle Fanning!

Theodore Finch is fascinated by death, and he constantly thinks of ways he might kill himself. But each time, something good, no matter how small, stops him.

Violet Markey lives for the future, counting the days until graduation, when she can escape her Indiana town and her aching grief in the wake of her sister’s recent death.

When Finch and Violet meet on the ledge of the bell tower at school, it’s unclear who saves whom. And when they pair up on a project to discover the “natural wonders” of their state, both Finch and Violet make more important discoveries: It’s only with Violet that Finch can be himself—a weird, funny, live-out-loud guy who’s not such a freak after all. And it’s only with Finch that Violet can forget to count away the days and start living them. But as Violet’s world grows, Finch’s begins to shrink.

This is an intense, gripping novel perfect for fans of Jay Asher, Rainbow Rowell, John Green, Gayle Forman, and Jenny Downham from a talented new voice in YA, Jennifer Niven.

All the Bright Places bercerita tentang Theodore Finch dan Violet Markey. Keduanya bersekolah di sekolah yang sama, sesekali berpapasan tapi tidak saling mengenal. Suatu pagi, Finch berdiri di tepi menara lonceng di sekolahnya, berpikir apakah ini hari yang tepat untuk mati. Ya, Finch sering memikirkan banyak cara untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Ternyata, di tempat yang sama, Violet juga memikirkan hal yang sama dengan Finch. Gadis itu kehilangan kakak yang sangat dia sayangi dalam sebuah kecelakaan mobil. Violet yang depresi karena itu merasa tidak layak untuk hidup. Dia ingin segera mengakhiri semuanya.

Bukan lantas meloncat dari menara, Finch malah menolong Violet–walau semua orang yang melihat kejadian itu berpendapat yang sebaliknya.

Sejak saat itu, Finch dan Violet jadi berteman dekat. Saat bersama Violet, Finch bisa menjadi dirinya sendiri. Dia tidak lagi menjadi anak aneh seperti anggapan teman-temannya selama ini. Saat bersama Finch, Violet bisa kembali menjalani hidupnya. Dia tidak lagi menghitung hari untuk mengakhiri hidup.

Sayang, saat hidup Violet menjadi cerah, Finch justru tenggelam dalam kegelapan.

“You saved my life. Why couldn’t I save yours?”

Review:

The Fault in Our Stars bertemu Eleanor and Park. Melihat pernyataan itu, aku membeli buku ini, and thank God, sekarang aku menemukan buku terbaik yang aku baca di sepanjang 2015–paling nggak sampai review ini dibuat.

All the Bright Places memiliki topik yang lebih berat dari dua novel yang dijadikan pembandingnya. Novel ini bercerita tentang mental illness dan suicide. Dengan menggunakan POV kedua tokoh utama, kita bisa menyelami gelapnya hidup yang mereka jalani karena hal itu.

Finch seorang bipolar. Emosinya yang mudah berubah-ubah membuatnya terlihat aneh di mata orang-orang di sekitarnya. Lalu, Violet, dia mengalami depresi setelah kepergian kakaknya. Dia merasa bersalah atas kecelakaan yang merebut nyawa kakaknya itu. Di saat nggak ada seorang pun yang memahami rasa sakit yang mereka rasakan, mau nggak mau, keduanya jadi ingin mengakhiri hidup.

Pertemuan mereka memang menyelamatkan keduanya dari niat bunuh diri di pagi itu. Mereka bahkan menemukan belahan jiwa masing-masing. Tapi ya itu, nggak semua bisa berjalan sesuai dengan yang mereka (juga aku) harapkan. Nggak semua orang bisa berjuang melawan sakit yang mereka rasakan. Saat mereka nggak bisa lagi berjuang,  yang bisa mereka lakukan hanya mengambil pilihan terakhir yang tersedia: meninggalkan rasa sakit itu.

I found this at one of All the Bright Places’ reviews on Goodreads.

All the Bright Places adalah buku kedua yang bikin aku emosional setelah The Fault in Our Stars. I cried a lot. Dan buku ini juga buku kedua setelah Norwegian Wood yang bikin aku sakit kepala karena ceritanya bikin depresi. Oke, aku memang suka cerita depresif, tapi aku jarang sakit kepala karena cerita seperti ini. Well, mungkin karena aku terlalu berempati dengan kedua tokoh utamanya. Aku bisa paham dengan keadaan Violet dan Finch. Makanya, walaupun kecewa setengah mati, aku berusaha untuk lapang dada menerima keputusan yang diambil Finch. Ah, damn you, Finch. *nangis lagi*

Well, aku suka Finch. Aku suka dengan karakternya. Dia pintar, lucu, dan penuh kejutan. Sulit rasanya untuk nggak jatuh cinta sama dia. He’s officially my new book boyfriend.

What if life could be this way? Only the happy parts, none of the terrible, not even the mildly unpleasant. What if we could just cut out the bad and keep the good?

Banyak yang membandingkan Finch dengan Augustus Waters. Banyak juga yang membandingkan tulisan Jennifer Niven ini dengan John Green. Aku pribadi sih nggak terlalu mempermasalahkan itu karena keduanya mempunyai pesona yang berbeda. Yang pasti saat membaca novel ini aku sampai harus menaruh bukunya dulu untuk menangis sampai puas, lalu lanjut baca lagi. Ya, seemosional itu. It hurts so much, I can’t stand.

atbp

image source: here, edited by me

All the Bright Places is the best book for me this year. Aku ingin kasih 6 dari 5 bintang, bahkan 10 dari 5 bintang. Tapi biar nggak dibilang berlebihan, aku kasih 5 bintang untuk novel ini. Hehe…

Aku merekomendasikan All the Bright Places untuk mereka yang suka dengan tipe cerita seperti The Fault in Our Stars atau bahkan yang lebih sedih dari itu. Oh, jangan lupa siapkan tisu.

Lalu, untuk mereka yang sedang merasakan hal yang sama seperti Violet dan Finch, aku harap novel ini bisa memberikan pelajaran yang terbaik. Ada banyak pertolongan di luar sana. Yang perlu kamu lakukan hanya mencarinya.

Lalu, untuk mereka yang mengenal orang-orang seperti Violet dan Finch, aku harapkan kalian bisa membantu mereka. Sebelum semuanya terlambat 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s