[Book Review] Doki Doki Game: Over?

25779395

Judul: Doki Doki Game: Over?

Genre: Misteri

Penulis: Ran Orihara

Penerbit: Ice Cube KPG

Tebal: 260 halaman

Harga: Rp. 50.000

Terbit: Juli 2015

Rating: 4,5 of 5 stars

Sinopsis:

Hoga Kuon, pemuda yang ditakuti berkat kemampuannya membaca detak jantung, menciptakan permainan kolosal mengerikan bernama doki doki game di sekolahnya, SMA Seishin Gakuen. Tak ada seorang pun yang berani melawannya.

Kecuali Yamane Runa.

Setelah berhasil mengalahkan Tomiya Rintaro dalam permainan tersebut, gadis itu mengambil keputusan seenaknya dalam doki doki show. Seakan semua itu belum cukup mengejutkan, Runa juga bersahabat dengan Iwate Maki, bukan malah menjaga jarak dengan siswa biasa seperti para master lainnya.

Namun, predikat master yang disandangnya otomatis membuat Runa semakin sering berinteraksi dengan Kuon. Rahasia yang menyelimuti mereka berdua pun perlahan terbuka selapis demi selapis. Tentang tabrak lari. Tentang kembang api. Tentang mimpi-mimpi. Tentang seseorang bernama Takeshi.

Hingga pada satu titik, Runa kembali mempertanyakan dirinya sendiri: apakah menyudahi doki doki game adalah pilihan terbaik?

Yamane Runa berhasil mengalahkan Tomiya Rintaro. Yang mengejutkan, dia memilih dirinya sendiri untuk masuk ke nero-class, tempat hukuman bagi mereka yang kalah dalam Doki Doki Game. Hoga Kuon dan para master bingung dengan keputusan Runa yang aneh itu hingga akhirnya Kuon sadar kalau Runa serius ingin mengalahkannya. Tentu Kuon menanggapi tantangan itu. Runa dimasukkan ke dalam nero-class yang lebih berat dari yang pernah dirasakannya. Rasa takut menerornya hingga membangkitkan luka di masa lalu.

Namun, Runa bukan gadis yang mudah menyerah. Dia kembali ke sekolah seperti biasa dan bahkan menjalin pertemanan dengan Iwate Maki, seorang gadis biasa yang sering ditindas di sekolah. Runa bersikap tidak seperti master lainnya dan itu membuat para murid di SMA Seishin Gakuen bingung sekaligus kagum padanya.

Runa sendiri tidak peduli tentang pandangan orang terhadapnya. Tujuan utamanya adalah mengalahkan Hoga Kuon untuk menyelesaikan misi yang diberikan ayahnya.

Yang Runa dan Kuon tidak tahu, mereka ternyata punya masa lalu yang saling berkaitan. Tentang kembang api. Tentang kecelakaan. Juga mengapa Kuon tidak bisa mendengar detak jantung Runa.

Lalu, apa kali ini Runa benar-benar bisa mengalahkan Kuon dan membubarkan Doki Doki Game? Temukan jawabannya di Doki Doki Game: Over?.

Review:

Uwah…, aku senang sama novel ini. Sumpah, senang banget.

Semua pertanyaanku di Doki Doki Game: Start! terjawab sudah. ありがとうございます, Ran Orihara.

Dan sekarang aku jadi bingung mau review dari mana saking senangnya sama novel ini. Haha… xD

(untuk yang belum baca Doki Doki Game: Start! sila dibaca dulu novelnya biar nggak tersesat di reviewku ini)

Oke. Untuk beberapa hal, novel ini masih sama dengan novel sebelumnya.

Ceritanya Jepang banget. Aku bisa percaya kalau orang bilang ini novel terjemahan.

Covernya juga sama kerennya. Aku suka dengan format bukunya yang dibaca dari belakang seperti baca manga. Well, sedikit kagok sih di awal–manga nggak setebal itu jadi baca dari belakang atau dari depan nggak masalah, tapi lama-lama seru juga.

Dengan menggunakan POV orang ketiga, kita kembali diajak mengikuti petualangan Runa dalam Doki Doki Game. Yamane Runa ini memang nggak bisa dianggap remeh. Gadis berkulit pucat itu nggak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan teka-teki yang diberikan di setiap Doki Doki Game. Kehebatannya hampir sama dengan pacarku (tolong, jangan diprotes ya :p) Arima Kouhei–master jenius yang paling disukai Kuon, bahkan mungkin lebih.

Alurnya yang maju mundur dengan cukup banyak flashback tapi bergerak cepat membawa kita menuju jawaban atas segala misteri di novel sebelumnya.

Aku suka banget cara Ran Orihara mengungkapkan misteri di balik Doki Doki Game. Tentang bagaimana Kuon bisa mengajak Ririka dan Yuu yang mempunyai kuasa di sekolah. Tentang tujuan pembuatan game itu. Tentang kenapa pihak sekolah sepertinya tidak masalah dengan game yang mengerikan itu. Ran Orihara memberikan pandangan yang lain dari Doki Doki Game yang kita lihat selama ini. Mungkin agak sulit dipahami di awal tapi lama-lama kita jadi mengerti apa maksudnya. Dan ternyata nggak seburuk yang aku kira–walau nggak bisa dibilang baik juga.

Misteri antara Ayah, Runa dan Kuon, juga kenapa Kuon nggak bisa mendengar detak jantung Runa, semua juga terjawab di novel ini. Peristiwa di masa lalu membawa mereka semua kembali ke satu tempat dengan tujuan saling menyembuhkan luka di hati.

Tapi nih, aku merasa beberapa dialog kurang bisa dicerna dengan baik jadi saranku mungkin harus baca pelan-pelan terutama di bagian yang penting biar bisa paham betul dengan informasi yang disampaikan.

Lalu, yang menjadi topik utama novel ini: apakah Runa bisa mengalahkan Kuon dan membubarkan Doki Doki Game? Sila dibaca sendiri di novelnya. Aku berharap lebih sebenarnya, tapi aku cukup puas dengan penyelesaian yang diberikan.

Yang bikin aku senyum-senyum terus pas baca novel ini adalah hubungan ketiga tokoh favoritku, Kuon-Runa-Kouhei. Terutama interaksi antara Kuon dan Kouhei sih. They’re so cute…

*ini review dibuat oleh fangirl mereka jadi harap maklum :p*

Iya, ada unsur romance di novel kedua ini, tapi nggak berlebihan. Porsinya pas. Kita jadi bisa melihat sisi lain dari ousama dan master jenius yang sedang terlibat cinta segitiga itu. Dan cara Kuon untuk membaca detak jantung Runa, sumpah, lucu banget. Agak konyol sih, tapi memang efektif. Haha… xD

Tempat yang paling sunyi dan bisa membuatku tenang. Itulah tempat kau berada.

– Hoga Kuon

Kouhei sebenarnya digambarkan ada kemungkinan terlibat romance dengan perempuan lain. Untungnya dibiarkan menggantung jadi aku nggak terlalu patah hati (halah…).

Oh iya, ini ada gambar Kuon dan Runa dalam fantasiku. Berhubung nggak bisa menemukan gambar yang tepat dan nggak bisa edit warna, harap maklum kalau rambut Runa jadi terang ya. Hehe…

ddgo

image source: here, edited by me

Dari semuanya, aku suka dengan interaksi para karakter di novel ini. Antara Runa yang santai menghadapi Kuon sang penguasa, antara Kouhei yang apatis dengan Maki yang pengecut, dan masih banyak lagi. Mereka begitu berlawanan jadi saat mereka bertemu, momennya jadi nggak mudah terlupakan. Dan yang paling aku suka, perubahan karakter Kuon. Dulu, Kuon terlihat seperti raja yang dingin dan kejam. Di sini, Kuon jadi terlihat lebih manusiawi–dengan caranya sendiri.

Satu hal yang aku kurang suka: efek suara. Blam, srak, grap, dan semacamnya. Terlalu banyak sih menurutku. Kayaknya di tiap bab ada. Nggak ganggu sih, cuma kurang suka aja. Hehe…

Secara keseluruhan, aku puas dan senang dengan Doki Doki Game: Over? ini. Penantian selama setahun terbayar sudah. Aku berharap masih ada sekuel berikutnya, tapi sepertinya nggak ada. Seperti kata Runa, “Jika ada kata start yang memulainya, pasti nanti akan ada kata over yang mengakhirinya. Itulah game.”

Aku berharap suatu hari novel ini bisa diadaptasi menjadi manga. Kalau bisa sih dijadikan dorama di Jepang sana. Pasti keren…!

Buat kamu yang suka cerita remaja yang seru, menegangkan, dan nggak melulu soal cinta, aku merekomendasikan novel ini.

Untuk Ran Orihara, ditunggu novel berikutnya 😀

Advertisements

4 thoughts on “[Book Review] Doki Doki Game: Over?

    • Akkk… betul! Itu momen paling lucu dari mereka berdua.
      Mukanya Kouhei pasti syok berat pas dengar Kuon yang cool itu bisa ngomong kayak gitu. Hahaha… xD
      Btw, makasih ya sudah baca reviewku 😀

  1. Aku ngeship kouhei & maki, kayaknya bakal lucu kalo mreka jd couple :p betewe stuju ma kakak, perubahan Kuon itu charming banget…pas adegan nembaknya itu lo aduhhh manis banget bikin diabetes lol
    dan yg bikin gregetan lagi hubungan yuu-ririka-rintaro :3
    Jadi penasaran sm Eren, bener bakal ada DDGR gk y? Itu cewek sangar abis, pdhl cm muncul bentar hwkkk

    • Oke, oke, jadi banyak yang setuju Kouhei sama Maki nih? Aku ikhlas deh. *nangis di pojokan*

      Iya, Kuon di sini memang jadi lebih charming. Nggak kuat lihat dia jadi manis gitu xD
      Soal Yuu-Rintaro-Ririka, mereka bisa banget diperbanyak adegannya. Lucu juga lihat Rintaro segitu posesifnya sama Ririka. Hehe…
      Aku sih berharap DDGR ada, tapi kayaknya waktu twitalk di twitter Ice Cube, Ran Orihara bilang ceritanya berakhir di sini.
      Yah kita berdoa aja, siapa tahu Ran berubah pikiran dan menulis DDGR. Atau, siapa tahu Eren yang jadi pemeran utama di novel E nanti?
      Let’s see… 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s