[Book Review] Montase

16300774Judul: Montase

Genre: Romance, Young Adult

Penulis: Windry Ramadhina

Penerbit: Gagas Media

Tebal: 368 halaman

Harga: Rp. 49.000

Terbit: Desember 2012

Rating: 4 of 5 stars

Sinopsis

Aku berharap tak pernah bertemu denganmu.

Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunanku.

Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.

Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi…

Kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu.

Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.

Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai…

dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.

Rayyi Karnaya, mahasiswa fakultas Film dan Televisi IKJ dan merupakan anak dari produser perusahaan film terbesar di Indonesia, Karya Karnaya. Dia mempunyai tiga orang sahabat bernama Andre, Bev dan Sube. Rayyi menyukai film, tapi dia tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Rayyi lebih tertarik dengan film dokumenter. Oleh karena itu dia mengikuti kelas Dokumenter walau tanpa kredit. Apalagi saat ini yang menjadi dosen tamu di kelas itu adalah Samuel Hardi, sineas muda yang mempunyai nama besar di dunia film dokumenter.

Di kelas itu Rayyi bertemu dengan gadis manis dari Jepang, Haru Enomoto, yang mengikuti pertukaran pelajar di kampusnya. Gadis itu bukan sosok asing buat Rayyi karena film dokumenter tentang sakura buatan gadis itu yang menyebabkan film buatan Rayyi kalah di salah satu lomba film dokumenter. “Apa maksudnya film tentang sakura ini?” Begitu kira-kira gerutu Rayyi saat menonton film buatan Haru.

large (1)

Sakura adalah ciri kehidupan yang tidak abadi. – Haru

Apalagi Haru ini ternyata gadis yang ceroboh. Karena dia, Rayyi selalu terkena masalah.

Tapi perlahan, sosok Haru yang unik memikat hati Rayyi.

Berbeda dengan Rayyi yang berada di bawah tekanan ayahnya untuk mewujudkan mimpi, Haru justru mewujudkan mimpi kedua orangtuanya yang mencintai film dokumenter. Haru suka melukis, tapi baginya yang lebih penting adalah kebahagiaan kedua orangtuanya.

“Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan? Bagimu, impian itu adalah menjadi pembuat film dokumenter… Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan.” – Haru

Bersama Haru, Rayyi mulai yakin dengan mimpi yang ingin diraihnya. Sayang, kebersamaan Haru dan Rayyi tidak lama. Haru menyimpan satu rahasia pada Rayyi dan karena itu, dia harus kembali ke Jepang, meninggalkan mimpinya yang belum sepenuhnya tercapai.

Lalu, bagaimana kehidupan Rayyi selanjutnya? Apakah dia bisa mewujudkan mimpi yang dia inginkan? Bisakah dia melepaskan diri dari tekanan ayahnya dan menjadi sineas dokumenter hebat seperti Samuel Hardi?

Dan, bisakah dia merelakan Haru yang meninggalkannya? Temukan jawabannya di Montase.

Review:

Hanya perlu dua hari berkenalan dengan Rayyi dan… sebentar ya. Aku mau nangis dulu. Hiks…

Ini karya ketiga dari Windry Ramadhina yang aku baca setelah Interlude dan Walking After You. Dan Kak Windry nggak pernah gagal membuatku kagum dengan tulisannya yang rapi dan ceritanya yang memikat hati. Novelnya mungkin nggak mengandung kata-kata yang puitis, tapi ceritanya mempunyai rasa manis yang pas dan menyentuh.

Awalnya aku agak kaget karena yang dipakai dalam cerita ini adalah POV Rayyi. Bisa dibilang cukup sulit bagi penulis perempuan untuk memakai POV laki-laki karena cara berpikir laki-laki dan perempuan itu berbeda. Tapi menurutku Kak Windry bisa menyuarakan hati Rayyi dengan cukup baik dan nggak ‘terdengar’ feminin.

Kalau untuk setting dan narasi, nggak perlu dibahas lagi ya. Dari ketiga novelnya yang sudah aku baca, jelas terlihat kalau Kak Windry pintar menghidupkan ceritanya. Aku kembali belajar banyak dari tulisan Kak Windry. Dan walaupun tema ceritanya klasik, Montase nggak terjebak dengan novel sejenis lainnya.

Yang aku kurang suka dari Montase yaitu bagian cerita Samuel dan Bev. Sedikit kurang berpengaruh sih menurutku. Atau mungkin karena aku kasihan sama Sube yang diam-diam mencintai Bev ya, makanya aku malas melihat Samuel bersama Bev. Entahlah. Hehe… *suara hati penggemar Sube*

Terus, penggambaran tokoh Rayyi agak kurang terasa. Sampai akhir, aku nggak bisa membayangkan Rayyi seperti apa. Jadi aku bayangkan saja dia seperti Kai, tapi lebih innocent… xD

Dan sebenarnya ada bagian cerita Haru yang agak janggal. Maksudku, kalau aku seperti Haru, orangtuaku nggak akan mengizinkanku ke luar negeri sendirian. Tapi mungkin karena mereka juga menginginkan Haru menjalani hidupnya dengan penuh makna, makanya mereka merelakan Haru pergi. Jadi ya sudahlah. Masih bisa dimaafkan. Hehe…

Membaca cerita Rayyi mengingatkan aku dengan kehilangan yang kurasakan satu tahun yang lalu. Dan apa yang Rayyi rasakan setelah Haru pergi membawaku kembali merasakan apa yang kurasakan saat itu. Semuanya terlihat biasa saja di luar. Aku tetap bisa menjalani hidup, tetap bisa tertawa tapi sebenarnya itu hanya sandiwara. Rasa kehilangan itu meninggalkan lubang yang besar di dalam hatiku, membuat aku seperti raga tanpa jiwa. Aku harus berpura-pura semuanya baik-baik saja karena kalau nggak begitu, aku nggak bisa bernapas. Itu yang membuat aku menangis di bagian akhir novel ini. Karena sama seperti Rayyi, saat itu aku belum bisa merelakan kepergian dia. Lebih tepatnya, saat itu aku belum ingin merelakan kepergian dia.

Montase

Sebelum curhatnya tambah panjang, mari kembali ke review.

Selain hubungan Rayyi dan Haru yang menggemaskan, aku suka dengan ketiga sahabat Rayyi. Sungguh beruntung dia dikelilingi orang-orang yang selalu mendukungnya di saat senang dan sedih. Aku juga suka banget dengan sosok Samuel-saat dia nggak bersama Bev. Yah…, siapa sih yang nggak suka dengan sosok angkuh, super menyebalkan tapi sebenarnya baik hati itu? Semoga suatu hari Samuel bisa hadir dengan ceritanya sendiri agar kita bisa tahu kenapa dia bersifat seperti itu. Ada yang mau ikut mengucapkan ‘amin’?

Oh, dan aku senang dengan akhir cerita Rayyi, walau nggak semanis cerita Kai dan Hanna atau An dan Ju.

Cerita Rayyi dan Haru mengingatkan aku kalau di dunia ini nggak ada yang abadi. Kejarlah mimpi di saat kita masih memiliki waktu. Dan saat merasa kehilangan, belajarlah untuk merelakan agar bisa kembali bahagia. Karena seperti yang Haru bilang, “Suteki da ne? Kono raifu.”

Hidup ini indah, ya?

image source: here and here. edited by me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s