[Book Review] Fangirl

fangirlJudul: Fangirl

Genre: Romance, Young Adult

Penulis: Rainbow Rowell

Penerbit: MacMillan

Tebal: 461 halaman

Harga: Rp. 135.000

Terbit: Januari 2014

Rating: 4 of 5 stars

Sinopsis

Cath and Wren are identical twins, and until recently they did absolutely everything together. Now they’re off to university and Wren’s decided she doesn’t want to be one half of a pair any more – she wants to dance, meet boys, go to parties and let loose. It’s not so easy for Cath. She’s horribly shy and has always buried herself in the fan fiction she writes, where she always knows exactly what to say and can write a romance far more intense than anything she’s experienced in real life.

Now Cath has to decide whether she’s ready to open her heart to new people and new experiences, and she’s realizing that there’s more to learn about love than she ever thought possible …

A tale of fanfiction, family, and first love.

Cath itu seorang gadis introvert dan dia, plus saudara kembarnya Wren, cinta mati dengan Simon Snow, sebuah karakter dalam novel best seller yang ditulis oleh Gemma T. Leslie. Cath lalu membuat fanfiction dari cerita Simon Snow dan dia punya banyak penggemar.

Kehidupan Cath lalu berubah saat dia masuk kuliah. Wren tidak mau lagi menjadi ‘pasangan’ Cath. Dia ingin menikmati hidup barunya sebagai mahasiswi sendirian–tanpa bayang-bayang Cath.

Dengan berat hati, Cath akhirnya menerima keputusan saudara kembarnya itu. Dia pun berusaha untuk memulai hidupnya sendiri, yang ternyata tidak mudah.

Cath mempunyai teman sekamar bernama Reagan, seorang gadis yang eksentrik. Dan teman sekamarnya ini mempunyai mantan pacar yang selalu berada di sisinya. Dia adalah pemuda berambut pirang bernama Levi. Omong-omong, Levi ini selalu tersenyum pada Cath–dan mungkin semua orang. Di kelas, ada seorang pemuda yang mengusik hati Cath setelah gadis itu diputuskan begitu saja oleh pacarnya. Plus, Professor yang mengajarnya meminta Cath ‘keluar’ dari dunia fanfiksinya.

Dan seakan itu semua belum membuatnya pusing, Cath juga harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil. Juga permintaan ibunya yang sudah sekian lama meninggalkannya.

Jadi, bisakah Cath menjalani hidup barunya di dunia nyata, bukan di dunia fanfiction yang dia ciptakan? Temukan jawabannya di Fangirl.

Review:

Kesan pertama, “Hmm…, Cath ini bikin fanfic dari cerita semacam Harry Potter ya? Tapi gay? Hehe…”

Ini kedua kalinya aku membaca karya Rainbow Rowell (setelah Eleanor & Park) dan ya, aku semakin suka dengan caranya bercerita. Novel ini menggunakan POV ketiga, tapi gaya bahasanya nggak kaku.

Untuk alur ceritanya, aku merasa Fangirl ini berjalan cukup lambat. Jadi butuh waktu lumayan lama buatku untuk menyelesaikan novel yang lumayan tebal ini. Atau mungkin kecepatan membacaku memang lagi lambat, jadi ya… gitu deh :p

Buat kamu yang nggak terlalu suka dengan alur lambat, harap bersabar aja ya. Hehe…

Untuk konflik ceritanya sendiri, aku suka sekali. Banyak yang dibahas dalam Fangirl ini.

Rainbow Rowell menggambarkan karakter penulis fanfic dengan cukup baik. Aku bisa membayangkan di luar sana ada penulis fanfic yang persis sama dengan Cath. Well, walau aku nggak nulis fanfiction, aku juga memiliki kepribadian yang hampir sama dengan Cath. Daripada main keluar, aku lebih suka duduk manis di depan laptop dan menulis. Dan itu nggak bagus juga sebenarnya. Sama seperti aku, Cath perlu keluar. Dia perlu bersosialisasi dan berusaha melupakan ketakutannya dalam menghadapi hal-hal yang nggak sesuai dengan yang dia harapkan.

Dan Rainbow Rowell sepertinya sedikit ‘menyenggol’ para penulis fanfic itu–dan juga para penulis pada umumnya. Nasihat Professor Piper untuk Cath tentang fanfic yang dia ciptakan, sangat menarik. Cath diminta untuk menciptakan dunianya sendiri, bukan mengambil dunia cerita orang lain dan mengubahnya seperti yang dia mau.

Well well…, ini benar juga sih. Nggak ada lagi yang baru di dunia ini, tapi bukan berarti kita bisa mengambil dunia orang lain, mengubahnya, lalu menjadikannya dunia kita sendiri. Sebagai penulis, kita harus bisa membuat dunia cerita kita sendiri, membuat karakter kita sendiri, dsb. Itu semacam hal dasar yang harus dimiliki penulis, bukan?

Sekarang, mari pindah ke karakter.

Menurutku Rainbow Rowell itu bisa banget membuat karakter yang memikat hati. Setelah Park, aku jatuh hati sama Levi. Maksudku, siapa sih yang nggak suka sama Levi? Dia selalu tersenyum, dia melindungi Cath, dia selalu berada di sisi Cath saat dibutuhkan. Okay, I need Levi in my life. Right now >///<

Hubungan Levi dengan Cath berjalan lambat tapi pasti. Aku nggak bisa berhenti tersenyum waktu mereka berduaan. Romantis tapi nggak memuakkan. Dan semakin ke sini, adegannya semakin intim (walaupun nggak eksplisit :p)  *blush*

Pokoknya aku cinta Levi. Dan karena Rainbow Rowell bilang di blognya kalau dia terinspirasi dari Tom Felton saat membuat karakter Levi, aku jadi makin suka sama pemuda baik hati itu. Yeah, I was in love with him as Draco Malfoy. Hehe…

tumblr_mtj8ftCHpK1sg0pp7o1_500

Dan walaupun karakter Cath, Reagan, dan Wren itu sebenarnya cukup menyebalkan buatku, mereka tetap punya keunikan yang memikat hati. Dialog mereka witty dan lucu. Aku selalu terhibur dengan karakter mereka yang ceplas-ceplos.

Fangirl ini kena banget buat aku yang juga seorang penulis dan juga seorang fangirl. Banyak banget bagian dalam cerita Fangirl ini yang menyentil aku.

Membaca Fangirl bukan hanya memberikan hiburan, tapi juga memberikan pesan moral. Karakter Cath mengajarkan aku untuk berani menerima perubahan. Wren mengajarkan aku kalau menikmati hidup terlalu bebas itu nggak baik. Reagan mengajarkan aku kalau hidup itu dijalani aja, nggak perlu terlalu pusing dipikirkan. Levi mengajarkan aku untuk selalu ada untuk orang yang kita sayangi. Ayah si kembar mengajarkan aku kalau hidup sebagai orangtua–apalagi tunggal–itu nggak mudah. Dan Professor Piper mengajarkan aku untuk berani menulis cerita sendiri.

Oh, di akhir setiap bab, ada beberapa potongan cerita Simon Snow yang ditulis oleh Gemma T. Leslie maupun fanfic yang ditulis Cath–dan beberapa fanfic yang ditulis bersama Wren. Aku jadi penasaran sama cerita Simon Snow. Selain John Green, Rainbow Rowell sukses membuat aku penasaran dengan cerita fiksi di dalam cerita fiksi mereka (?).

So, di mana aku bisa membaca Simon Snow? Dan di mana aku bisa bertemu Levi?

Cuma di Fangirl ini kayaknya 😀

image source: here

Advertisements

2 thoughts on “[Book Review] Fangirl

  1. Wah ternyata buku ini ada di Indonesia ya? Kudet banget aku, kemarin aku nemu quote dari Rainbow Rowell dari Fangirl juga di Goodreads yang “I don’t trust anybody. Not anybody. And the more I care about someone, the more sure I am they’re going to get tired of me and take off”

    • Iya, sudah ada di Indonesia. Kemarin aku beli di Books & Beyond. Terjemahannya juga sudah ada, diterbitkan sama Penerbit Spring. Coba cari di toko buku 😉
      Iya, itu quote dari Cath, kalau nggak salah. Dia memang nggak gampang percaya sama orang. Hehe…
      Thanks for your visit 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s