[Book Review] Let It Snow

21243178

Judul: Let It Snow

Genre: romance, young adult

Penulis: Maureen Johnson, John Green,  Lauren Myracle

Penerbit: Penguin

Tebal: 354 halaman

Harga: Rp. 135.000

Terbit: September 2013

Rating: 3,5 of 5 stars

Sinopsis

An ill-timed storm on Christmas Eve buries the residents of Gracetown under multiple feet of snow and causes quite a bit of chaos. One brave soul ventures out into the storm from her stranded train and sets off a chain of events that will change quite a few lives. Over the next three days one girl takes a risky shortcut with an adorable stranger, three friends set out to win a race to the Waffle House (and the hash brown spoils), and the fate of a teacup pig falls into the hands of a lovesick barista.

Let It Snow terdiri dari 3 cerita berbeda yang mengambil setting di Gracetown dan berada pada setting waktu yang hampir sama, yaitu di malam Natal. Hari itu terjadi badai salju. Dan di hari yang kacau itu, cinta datang untuk menghangatkan  ketiga tokoh utama dalam buku ini.

Cerita pertama berjudul The Jubilee Express oleh Maureen Johnson. Malam itu Jubilee harusnya pergi ke acara makan malam di rumah pacarnya, tapi karena ulah konyol kedua orangtuanya, Jubilee atau yang biasa dipanggil Julie malah terpaksa mengungsi ke rumah kakek neneknya. Seakan kesialan itu belum cukup, kereta yang dinaikinya terpaksa berhenti di tengah jalan karena terhalang badai salju. Gadis itu akhirnya turun dari kereta dan pergi ke Waffle House yang letaknya tidak jauh dari tempat kereta berhenti. Di sana, gadis itu bertemu Stuart, seorang pemuda yang akhirnya membuka matanya tentang cinta.

Cerita kedua berjudul A Cheertastic Christmas Miracle oleh John Green. Tobin, JP dan The Duke menghabiskan hari dengan maraton film James Bond di rumah Tobin sampai seorang teman mereka meminta mereka datang ke Waffle House karena ada rombongan cheerleader yang terdampar di restoran itu (omong-omong, rombongan cheerleader ini satu kereta dengan Jubilee di cerita sebelumnya). Berada di antara banyak perempuan cantik, tentu kesempatan langka ini tidak bisa dilewatkan begitu saja. Maka dimulailah petualangan mereka ke Waffle House yang penuh rintangan.

Cerita ketiga berjudul The Patron Saint of Pigs oleh Lauren Myracle. Addie baru saja patah hati. Dia berpisah dengan Jeb, pemuda yang sangat dicintainya, karena kesalahan yang dia lakukan. Berusaha untuk melupakan kesedihannya, Addie berjanji untuk membantu sahabatnya menjemput seekor babi kecil dari pet shop. Dia ingin membuktikan kalau dia bukan orang yang egois, seperti yang dituduhkan para sahabatnya (yang memang menjadi penyebab pisahnya Addie dan Jeb). Tapi, sial, ternyata ada orang lain yang sudah mengambil babi kecil itu.

Jadi, apa yang terjadi pada Jubilee setelah dia bertemu Stuart? Lalu, apakah Tobin dan kedua temannya berhasil tiba di Waffle House? Dan, apakah Addie bisa menemukan babi kecil milik temannya itu? Temukan jawabannya dalam Let It Snow.

Review:

Cerita pertama dalam buku ini menjadi pembuka yang enak banget untuk dibaca (menurutku). Alurnya mengalir lancar. Ceritanya ringan, lucu, dan cukup romantis. Karakter Jubilee dan Stuart sangat menyenangkan untuk dikenal. Dan karena POV dalam cerita ini dibawakan oleh Jubilee, aku suka dengan narasinya yang witty. Sukses bikin ketawa sepanjang cerita. Aku malah sebal sama karakter Noah, pacarnya Jubilee itu. Bah, dia nggak punya hati. *jadi emosi*

Membaca cerita kayak gini akan membuat aku berkhayal untuk menemukan seseorang seperti Stuart. Hehe… :p

Untuk cerita kedua, jujur, aku agak kecewa dengan John Green. Pesonanya memang tetap ada dalam cerita ini tapi ya udah, gitu aja. Kurang berkesan. Aku sedikit bosan dengan alurnya jadi banyak bagian yang aku skip, cuma baca dialognya aja. Untungnya cerita ini memiliki karakter yang cukup unik dan ditutup dengan akhir yang manis, jadi aku nggak terlalu kecewa.

Dan cerita ketiga, well, I don’t really like the main character. Selain cerita Tobin, cerita Addie ini juga cukup banyak yang aku skip. Mungkin karena sedikit bosan di cerita kedua, jadi di cerita ketiga ini aku jadi bosan beneran. Bukan karena ceritanya, tapi karena karakternya. Menyebalkan.

Untuk ceritanya sendiri, sebenarnya cerita ini lebih baik dari cerita kedua. Rasanya kayak nonton film bertema holiday di akhir tahun. Ceritanya hangat dan manis. Aku suka dengan bagian di mana seluruh karakter dalam ketiga cerita ini bertemu di Starbucks. Seru. Dunia terasa sempit karena mereka semua ternyata saling berhubungan.

large

Intinya sih, aku cukup menikmati buku ini. Buat kamu yang suka membaca novel Young Adult, kamu bisa baca buku ini. Cocok juga buat dijadikan bacaan di saat liburan. Siapa tahu setelah membaca buku ini cinta akan datang menemui kamu dalam waktu yang nggak terduga, seperti yang dirasakan Jubilee, Tobin dan Addie. Well, we should never give up a happy ending, right? 😉

image source: here

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s