[Book Review] Girls in the Dark

10364046_664409156946853_4221417442753581794_n

Judul: Girls in the Dark

Genre: thriller, mystery

Penulis: Akiyoshi Rikako

Penerbit: Haru

Tebal: 283 halaman

Harga: Rp. 52.000

Terbit: Mei 2014

Rating: 5 of 5 stars

Sinopsis

Apa yang ingin disampaikan gadis itu?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.

Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?

Tidak ada yang tahu.

Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi…

Kau pernah berpikir untuk membunuh seseorang?

“Saya ingin tahu kejadian yang sebenarnya. Karena itu saya meminta kalian menceritakan kejadian ini dari sudut pandang masing-masing. Sebuah naskah dengan tema kematian Itsumi. Naskah yang kita persembahkan bagi Itsumi. Kenapa Itsumi harus mati? Kemudian… apakah benar ada di antara kita yang membunuhnya?

Girls in the Dark dimulai dengan sambutan dari Ketua Klub Sastra SMA Putri Santa Maria yang baru, Sumikawa Sayuri. Dalam salam pembukanya, Sayuri mengungkapkan rasa kehilangannya setelah Ketua Klub Sastra yang sebenarnya, Itsumi, meninggal beberapa waktu yang lalu. Untuk mengenang kepergian Itsumi, Sayuri meminta para anggota Klub Sastra, untuk menceritakan pandangan mereka tentang kejadian itu.

Anggota Klub Sastra hanya ada enam orang. Sayuri, sahabat Itsumi yang selalu mendukungnya. Nitani Mirei, siswi dari keluarga tidak mampu yang bisa masuk ke SMA Putri Santa Maria berkat program beasiswa dari Ayah Itsumi. Kominami Akane yang suka memasak. Diana Detcheva si siswi Internasional dari Bulgaria. Koga Sonoko, siswi jurusan IPA yang ingin jadi dokter. Dan terakhir, Takaoka Shiyo, sang penulis novel terkenal.

Di dalam salon megah ala butik Anna Sui, mereka mengadakan pertemuan dengan tema yaminabe (arti harfiahnya, “panci dalam kegelapan”). Di dalam gelap, mereka mengumpulkan bahan makanan yang tidak boleh diberi tahu apa isinya ke dalam panci. Mereka memasak bahan makanan itu lalu menikmatinya dalam gelap sambil mendengarkan cerita dari para anggota Klub Sastra.

Satu per satu anggota Klub Sastra maju lalu membaca cerita yang mereka tulis. Dalam cerita itu mereka mengenang kembali sosok Itsumi yang cantik, pintar, baik hati dan selalu membantu mereka. Tapi di dalam cerita itu pula, setiap anggota Klub mebuat analisis tentang kematian Itsumi.

Semua cerita saling bertentangan, semua anggota saling tuduh. Bunga lily yang dipegang Itsumi saat kematiannya juga berhubungan dengan setiap anggota Klub Sastra, menyebabkan setiap tuduhan itu mungkin benar adanya. Misteri kematian Itsumi pun semakin tidak jelas.

Jadi, siapa sebenarnya yang membunuh Itsumi? Benarkah salah satu anggota Klub Sastra yang membunuhnya? Cari jawabannya di novel Girls in the Dark.

Review:

Serius…, Girls in the Dark ini novel yang gila—dalam artian baik, tentunya.

Setiap bab di dalam novel ini ditulis dengan sudut pandang pertama dari setiap karakter anggota Klub Sastra yang ada. Setiap karakter itu mempunyai kisah yang berbeda-beda dengan Itsumi. Dari cerita mereka, sosok Itsumi jadi terbayang. Tapi dari cerita mereka pula kita diajak untuk mencari tahu siapa pembunuh Itsumi. Mereka punya analisa masing-masing tentang kematian Itsumi dan analisa itu berakhir dengan saling tuduh di antara sesama anggota Klub Sastra.

Aku jadi deg-degan bacanya. Seandainya aku menjadi salah satu anggota Klub Sastra itu, aku pasti sudah pucat kalau dituduh begitu. Atau mungkin marah besar. Hihi…

Girls in the Dark penuh plot twist. Walau alurnya mundur, ceritanya sangat menarik untuk diikuti. Setiap bab-nya memiliki kejutan. Setiap bab-nya memiliki fakta (fiksi) dan argumen yang kuat. Aku jadi nggak tahu harus percaya sama cerita siapa. Semuanya terlihat meyakinkan.

Setiap karakter di dalam novel ini memiliki sisi gelapnya masing-masing. Semuanya. Mereka punya rahasia yang tersimpan rapi dan rahasia-rahasia itu hanya bisa kita ketahui saat membaca bab terakhirnya. Aku cinta banget sama penulisnya yang menyusun rapi semua rahasia sehingga saat semuanya diungkapkan, aku jadi geleng-geleng kepala dengan wajah nggak percaya. Keren…!

Ya. Novel ini memberikan ending yang nggak tertebak. Sesuai banget sama harapanku waktu membeli buku ini. Ceritanya memang gelap, tapi sangat seru untuk diikuti. Aku suka dengan sisi gelap dunia remaja yang diangkat dalam novel ini.

Well, karena sering menonton Conan, aku bisa menebak akhirnya, soal siapa pembunuhnya, tapi aku nggak menyangka kalau akhirnya akan seperti itu. Hehe…

Ini novel pertama dari Akiyoshi Rikako yang aku baca. And I love it. Gaya penulis Jepang memang detail jadi kadang alur cerita terasa sedikit lambat, tapi karena aku termasuk pembaca yang sabar, aku nggak kecewa sama sekali dengan novel ini. Buat yang suka dengan novel thriller atau misteri remaja, wajib baca novel ini.

girls in the dark

Image source: here. Edited by me.

Aura gelap dalam novel ini mengingatkan aku dengan film Jepang yang judulnya Confessions (Kokuhaku). Kalau film itu punya opening yang mencengangkan, novel ini punya ending yang mencengangkan.

Semoga Penerbit Haru bisa semakin banyak menerjemahkan novel keren seperti ini ya 😀

Advertisements

One thought on “[Book Review] Girls in the Dark

  1. Pingback: [Book Review] Holy Mother | Girl with Writing Problems

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s